Mengenal CEMS dan Komponen Penting dalam Sistem Pemantauan Emisi
Aktivitas industri menghasilkan emisi yang perlu dipantau untuk memastikan dampaknya terhadap lingkungan tetap terkendali. Namun, pemantauan emisi tidak cukup hanya dilakukan dengan mengumpulkan data. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa data yang dihasilkan akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini menjadi tantangan, terutama bagi industri yang beroperasi secara terus-menerus dan menghasilkan emisi dari berbagai proses produksi.
Salah satu teknologi yang dapat membantu kebutuhan tersebut adalah Continuous Emission Monitoring System (CEMS). Berikut penjelasan lengkap untuk memahami CEMS serta mengetahui pentingnya audit dalam mengevaluasi kinerja sistem.
Apa Itu CEMS?
Continuous Emission Monitoring System atau CEMS adalah sistem pemantauan emisi yang dirancang untuk mengukur parameter tertentu secara kontinu dari sumber emisi, seperti cerobong industri. Fungsi utamanya mencakup pemantauan laju alir, deteksi dini kebocoran atau peningkatan polutan, serta penyediaan basis data operasional bagi tim teknis pabrik untuk mengoptimalkan efisiensi pembakaran di dalam tungku atau boiler.
Parameter yang dipantau melalui CEMS dapat berbeda sesuai dengan jenis industri, karakteristik proses, dan ketentuan yang berlaku. Beberapa parameter yang umum dijumpai antara lain sulfur dioksida (SO?), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), dan partikulat. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, perusahaan dapat mengamati perubahan emisi, mengenali kondisi yang perlu ditindaklanjuti, serta mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data.
Bagaimana Cara Kerja CEMS Dalam Pemantauan Emisi?
Berbeda dengan pengujian manual yang dilakukan pada waktu tertentu, CEMS dapat menghasilkan data secara berkala dan berkelanjutan selama sistem beroperasi. Secara umum, CEMS terdiri dari beberapa komponen yang saling terhubung, setiap komponen memiliki fungsi yang mendukung proses pemantauan, sehingga hasil pengukuran dapat direkam dan ditinjau oleh perusahaan.
Salah satu komponen utamanya adalah CEMS analyzer, yaitu alat yang berfungsi menganalisis kandungan gas atau partikulat tertentu dalam emisi. Alat ini bekerja dengan teknologi pengukuran sesuai parameter yang dipantau. Hasil pengukuran kemudian diteruskan ke sistem akuisisi data untuk diolah, disimpan, dan ditampilkan dalam bentuk informasi yang dapat digunakan oleh perusahaan. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, perusahaan dapat mengamati perubahan emisi, mengenali kondisi yang perlu ditindaklanjuti, serta mendukung pengelolaan lingkungan berbasis data.
Mengapa Perlu Melakukan Audit CEMS?
Meskipun sistem CEMS telah terpasang dan beroperasi secara otomatis, kinerja instrumen dan kualitas data yang dihasilkan dapat mengalami penurunan akurasi seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, audit CEMS dibutuhkan untuk mengevaluasi apakah sistem telah berfungsi sesuai dengan tujuan pemantauan.
Pelaksanaan audit CEMS juga berkaitan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 13 Tahun 2021 tentang Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri Secara Terus Menerus (SISPEK). Regulasi ini mewajibkan seluruh data CEMS industri disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku bagi masing-masing sektor atau kegiatan industri.
Jika instrumen CEMS tidak diaudit dan menghasilkan data yang tidak valid atau terindikasi manipulatif, status konektivitas SISPEK dapat terganggu. Hal ini berdampak langsung pada penilaian PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup). Melalui uji evaluasi teknis seperti Relative Accuracy Test Audit (RATA), Response Correlation Audit (RCA), dan Cylinder Gas Audit (CGA) perusahaan mendapatkan jaminan bahwa instrumen CEMS telah memenuhi ambang batas kriteria akurasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
Oleh karena itu, jika perusahaan Anda membutuhkan layanan Audit CEMS, Unilab Perdana siap membantu perusahaan Anda mengevaluasi performa CEMS secara presisi dan objektif. Silahkanhubungi tim PT Unilab Perdana untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.