Kenali Risiko Heat Stress dan Pentingnya Pengukuran Iklim Kerja
Bekerja di lingkungan yang panas mungkin menjadi hal yang biasa bagi pekerja di area industri. Jika kondisi tersebut berlangsung terus menerus, panas di tempat kerja tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat mempengaruhi kondisi pekerja. Kondisi panas yang berlebihan perlu menjadi perhatian perusahaan karena dapat berkaitan dengan risiko heat stress atau stres akibat panas.
Tanpa disadari, mengabaikan kondisi ini sama saja dengan membiarkan bahaya mengintai keselamatan jiwa pekerja dan keberlangsungan operasional industri. Dengan begitu, untuk mengetahui apakah kondisi lingkungan kerja masih berada dalam batas yang dapat diterima, perusahaan perlu melakukan pengukuran iklim kerja secara tepat.
Apa Pengertian Dari Heat Stress?
Heat stressmerupakan kondisi ketika tubuh menerima beban panas yang lebih besar daripada kemampuan tubuh untuk mengatur dan melepaskan panas tersebut. Kondisi ini dapat terjadi ketika pekerja berada di lingkungan dengan suhu tinggi, terpapar sumber panas, melakukan aktivitas fisik berat, atau bekerja dalam kondisi yang membuat pelepasan panas dari tubuh menjadi kurang efektif.
Risiko heat stresstidak hanya ditentukan oleh suhu udara. Kondisi lingkungan seperti kelembaban, radiasi panas dari sumber tertentu, pergerakan udara, serta beban aktivitas fisik pekerja juga dapat mempengaruhi beban panas yang diterima tubuh. Karena itu, penilaian kondisi panas di tempat kerja tidak cukup hanya dengan melihat angka suhu pada termometer. Perusahaan dapat melakukan pengukuran iklim kerja menggunakan indikator Indeks Suhu Bola Basah (ISBB).
Mengenal Istilah Indikator ISBB
Dalam standar K3, parameter utama yang digunakan untuk mengukur iklim kerja panas adalah Indeks Suhu Bola Basah (ISBB). ISBB juga mempertimbangkan beberapa kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap beban panas. Indikator ISBB ini tidak hanya mengukur suhu udara biasa pada termometer, melainkan mengintegrasikan perhitungan suhu basah alami, suhu radiasi dari permukaan panas, serta suhu kering udara sekitar. Hasil pengukuran ISBB yang tepat dapat membantu perusahaan memahami kondisi iklim kerja pada area dan aktivitas tertentu secara objektif berdasarkan data.
Dampak Heat Stress Bagi Pekerja dan Perusahaan
Dampak dari paparan panas berlebih di area kerja bisa beresiko menurunkan performa kerja secara drastis. Pada tahap awal, pekerja dapat mengalami kelelahan ekstrim, kram otot, dan dehidrasi. Jika terus dibiarkan tanpa adanya upaya pendinginan, kondisi ini dapat memicu heat exhaustion hingga heat stroke. Kondisi tersebut dapat menjadi perhatian khusus pada pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik tinggi atau dilakukan dalam waktu lama di lingkungan yang panas.
Dari sisi perusahaan, saat pekerja lebih cepat mengalami kelelahan, kemampuan untuk mempertahankan performa kerja dapat ikut terpengaruh. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya risiko kecelakaan kerja di lapangan. Karena itu, pengelolaan risiko heat stress sebaiknya tidak hanya dilakukan setelah muncul keluhan dari pekerja. Perusahaan dapat melakukan identifikasi kondisi lingkungan kerja melalui pengukuran sehingga potensi risiko dapat diketahui lebih awal. Data hasil pengukuran juga dapat menjadi dasar bagi perusahaan untuk menentukan upaya pencegahan yang sesuai, seperti memperhatikan kondisi area kerja, sumber panas, jenis pekerjaan, durasi paparan, serta kondisi pekerja yang berada di area tersebut.
Kapan Perusahaan Perlu Melakukan Pengukuran Iklim Kerja?
Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, pengujian faktor fisika iklim kerja panas diwajibkan untuk dilakukan secara rutin per semester. Pemantauan berkala ini bertujuan untuk memastikan bahwa paparan panas di tempat kerja berada di bawah nilai ambang batas yang diperkenankan berdasarkan alokasi waktu kerja dan tingkat beban kerja fisik. Pengukuran insidental juga wajib dilaksanakan apabila memasuki musim kemarau ekstrim, atau saat muncul keluhan dari pekerja mengenai kondisi kerja yang terlalu panas.
Pada akhirnya, pengukuran iklim kerja bukan sekadar mendapatkan angka. Dengan melakukan pengukuran secara tepat, perusahaan memiliki data yang lebih jelas untuk mengevaluasi kondisi lingkungan kerja. Data tersebut dapat membantu perusahaan memahami kondisi lingkungan kerja, mengenali potensi risiko heat stress, dan menjadi salah satu dasar dalam menentukan upaya pencegahan yang sesuai.
Jika perusahaan Anda membutuhkan layanan Uji Riksa K3, Unilab Perdana siap membantu perusahaan Anda memperoleh data untuk mengidentifikasi dan mengendalikan risiko lingkungan kerja. Silahkan hubungi tim PT Unilab Perdana untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.