Dalam dunia kerja dengan tuntutan pekerjaan yang tinggi, untuk mencapai target dibutuhkan konsentrasi yang baik dan kemampuan menjaga energi serta kewaspadaan saat berada di lingkungan kerja. Lalu muncul kebiasaan baru di kalangan pekerja yaitu minum kopi untuk menjaga konsentrasi dan kewaspadaan. Kopi telah menjadi budaya yang tidak lepas dari rutinitas pekerja yang disebut dengan coffee culture.
Kopi menjadi solusi untuk menghilangkan kantuk saat bekerja. Banyak pekerja memulai pagi hari dengan minum secangkir kopi, bahkan ada isitilah coffee break yang berfungsi sebagai jeda rehat sejenak, hingga wadah sosial yang membantu interaksi dan relaksasi pekerja. Pada saat meeting dengan rekan kerja maupun klien tidak jarang ada segelas kopi yang menemani.
Dari sudut pandang keselamatan dan kesehatan kerja (K3), konsumsi kopi dapat membantu meningkatkan kondisi pekerja. Dimana kandungan kafein diketahui dapat meningkatkan kewaspadaan, konsentrasi, dan membantu mengurangi kelelahan bekerja bahkan risiko human error. Terutama untuk pekerjaan yang memerlukan tingkat ketelitian atau fokus yang tinggi seperti pekerja di laboratorium. Pekerja dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi cenderung memiliki kinerja dan produktivitas lebih optimal.
Batas aman kafein untuk orang dewasa adalah ? 400 mg kafein per hari atau 1-3 cangkir kopi. Konsumsi kopi disarankan pada pagi hari atau setelah makan siang untuk menghindari kantuk disiang hari. Sebaiknya hindari minum kopi setelah jam 15.00 dan tidak dianjurkan minum kopi mendekati jam tidur karena dapat mengganggu kualitas tidur dan meningkatkan kelelahan kerja keesokan harinya. Efek samping dari konsumsi kafein yang berlebihan dapat mengakibatkan jantung berdebar, cemas, gangguan tidur, tekanan darah meningkat, dan ketergantungan kafein. Hal ini juga dapat menyebabkan risiko K3 seperti kelelahan kerja, penurunan konsentrasi hingga risiko kecelakaan kerja.
Budaya coffee culture dapat menjadi sebuah kebiasaan yang baik yang dapat memberikan dampak positif dalam lingkungan kerja. Namun jangan berlebihan dan selalu bijaksana dalam mengonsumsi kafein, sehingga hanya dampak positifnya saja yang kita peroleh. (Selly Apriliana)
Sumber/Pustaka: Herqutanto, H., et al. (2024). Coffee consumption and alertness: a study among office workers in Jakarta. Frontiers in Nutrition. Rodrigues et al. (2021). Coffee in the Workplace: A Social Break or a Performance Enhancer? Medical Sciences Forum.Varna Medical Forum. U.S. Food and Drug Administration (2018). Spilling the Beans: How Much Caffeine is Too Much?