BAGAIMANA SICK BUILDING SYNDROME (SBS) DAPAT MENURUNKAN PRODUKTIVITAS DAN PROFIT PERUSAHAAN
Pesatnya era industri saat ini memicu pembangunan gedung bertingkat dengan desain modern. Namun, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan dampak negatif melalui penurunan ventilation rate (Camelia, 2011). Data dari NIOSH menyatakan bahwa faktor terbesar dari rendahnya kualitas udara dalam ruangan (KUDR) adalah ventilasi yang tidak memadai (Saijo dkk, 2004). Penurunan KUDR dan ventilation rate dapat menjadi faktor risiko terjadinya Sick Building Syndrome (SBS).
SBS merupakan kumpulan gejala kesehatan yang terjadi pada penghuni bangunan, namun gejala-gejala menghilang ketika meninggalkan bangunan (EPA, 2023). EPA (2025) memperkuat kembali dengan menyatakan bahwa kadar polutan di dalam ruangan dapat lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat polusi udara di luar ruangan. Selain itu, diketahui bahwa waktu kerja di Indonesia mencapai 8-10 jam per hari, sehingga waktu paparan udara dalam ruangan relatif lama dan dapat mempercepat timbulnya gejala SBS.
Dampak atau gejala langsung dari SBS yang sering dilaporkan antara lain iritasi mata, hidung, tenggorokan, dan kulit; sakit kepala; kelelahan; mudah mengantuk; pusing; serta sulit berkonsentrasi (Feritaz, 2025). Kemudian dampak tersebut akan berpengaruh pada penurunan kehadiran, penurunan produktivitas kerja, bahkan hingga penurunan profit dari perusahaan. Artinya, terjadinya SBS seperti efek domino yang dimulai dari munculnya gejala kesehatan ringan hingga berdampak pada profit perusahaan.
Besarnya dampak yang dapat terjadi menunjukkan bahwa SBS masih menjadi pekerjaan rumah bagi setiap industri/perusahaan di Indonesia. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan oleh perusahaan antara lain dengan menyediakan sistem ventilasi yang berfungsi baik dan normal serta melakukan pemantauan KUDR secara berkala. Upaya tersebut dilakukan untuk memonitor apabila ditemukan kondisi abnormal sehingga terhindar dari terjadinya penurunan produktivitas dan penurunan profit dari perusahaan. (Jalu Prakoso)
Sumber : Camelia, A. (2011). Sick Building Syndrome dan Indoor Air Quality. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2(2), 79-84. Fertiaz, M. (2025). Sick Building Syndrome: Risiko Kesehatan di Lingkungan Gedung & Dampaknya Terhadap Kesehatan Kerja. Webinar Bulan K3 PT Unilab Perdana. Saijo, Y. et al. (2004). Symptoms in relation to chemicals and dampness in newly built dwellings. International Archives of Occupational and Environmental Health, 77(7), 461– 470. US EPA. (2025). An Introduction to Indoor Air Quality. US EPA. (2023). The Inside Story: A Guide to Indoor Air Quality.