PEREMPUAN INDONESIA: DI ANTARA PENDIDIKAN DAN TUNTUTAN SOSIAL
Di balik toga dan senyum cantik di hari wisuda, terkadang ada banyak tersimpan keraguan yang seringkali tidak dapat diungkapkan dengan lantang, terutama bagi para perempuan: “Apakah aku akan bisa menentukan jalan hidupku sendiri, atau justru harus mengikuti ekspektasi orang-orang sekitarku?”. Saat ini, semakin banyak wanita yang menempuh pendidikan tinggi. Menamatkan bangku perkuliahan demi meraih sebuah gelar dan berharap di masa depan dunia akan memberi kesempatan yang lebih luas untuk mereka dapat berkembang dan membangun kehidupannya sendiri sesuai dengan yang mereka inginkan. Namun, ekspektasi kebebasan itu seringkali terjegal dengan realita pahit akan tuntutan sosial terhadap wanita. Begitu memasuki dunia kerja, perempuan akan langsung dihadapkan pada berbagai keterbatasan yang tidak secara langsung terlihat: usia, pernikahan, dan tuntutan untuk memiliki keturunan. Seolah-olah meskipun mereka telah mampu membuktikan bahwa mereka dapat berdiri sendiri, mereka tetap belum sepenuhnya memiliki kendali atas hidupnya.
Menurut UN Women, perempuan secara global masih memikul beban kerja domestik yang jauh lebih besar dibandingkan laki-laki, yang pada akhirnya dapat berdampak pada keberlanjutan karir mereka. Pilihan hidup yang seharusnya bersifat personal perlahan berubah menjadi ekspektasi kolektif. Bukan karena tidak mampu memilih, namun lebih karena waktu mereka dianggap terbatas oleh standar yang tidak mereka tentukan sendiri. Banyak suara yang perlahan mengecil ketika rencana hidup yang besar harus dinegosiasikan dengan keluarga maupun pasangan.
Jika dulu perjuangan perempuan adalah untuk mendapatkan akses pendidikan, maka kini perjuangan itu telah bergeser. Ketika pendidikan telah berhasil diraih, lalu sejauh mana pendidikan itu dapat ia terapkan, dapat ia rasakan manfaatnya terlebih untuk dirinya sendiri? Dalam semangat hari kartini, sudah seharusnya kita dapat memberi perhatian lebih kepada kebebasan perempuan dalam menentukan jalan hidupnya. Karena emansipasi bukan hanya tentang kesempatan, melainkan tentang kebebasan yang utuh, tanpa batasan waktu maupun peran yang ditentukan sepihak. Sebab pada akhirnya, mimpi perempuan tidak seharusnya dibatasi oleh standar yang tidak pernah mereka pilih. (Adya Maharani)