Di sebuah gang sempit di Surabaya, pagi selalu dimulai lebih cepat bagi Bu Marsiati. disaat orang-orang masih terlelap, bu marsiati sudah bersiap menjalani hari, dengan bekerja sejak pagi hingga sore, lalu melanjutkan perjuangannya di depan rumah melalui sebuah warkop kecil sederhana bernama “Warkop Mbak Lusi”. Nama itu diambil dari putrinya, Mbak Lusi, yang kini tinggal bersamanya bersama tiga orang anaknya. Di tempat itulah, setiap malam, Bu Marsiati melayani pelanggan setulus hati, meski lelah setelah seharian bekerja.
Hidup tidak selalu mudah baginya. Lima tahun yang lalu, di masa pandemi, Bu Marsiati kehilangan suaminya. Namun sejatinya, bahkan jauh sebelum itu, ia sudah terbiasa mandiri. Sejak dulu, ia bekerja di pagi hari dan tetap membuka toko dimalam hari. Kini, perannya semakin besar, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk anak, menantu, dan cucu-cucunya.
Di tengah perkembangan Kota Surabaya, perempuan seperti Bu Marsiati adalah bagian penting dari kekuatan ekonomi masyarakat. Tercatat ada 325.000 pelaku UMKM di kota ini, banyak di antaranya digerakkan oleh perempuan yang berjuang dari rumah dan lingkungan sekitar. Warkop kecil seperti milik Bu Marsiati seperti tampak sederhana, tetapi memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.
Lebih dari sekadar mencari nafkah, yang membuat Bu Marsiati istimewa adalah keteguhannya. Ia tidak menyerah pada keadaan, tidak putus asa pada kehilangan. Ia terus berjalan, perlahan namun pasti. Semangatnya mencerminkan nilai perjuangan R.A. Kartini tentang keberanian, keteguhan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Kartini masa kini tidak selalu tampil di panggung besar. Ia hadir dalam sosok sederhana, yang bekerja tanpa sorotan, tetapi memberi dampak nyata bagi keluarganya bahkan lingkungannya.
Dari gang sempit di Surabaya inilah Bu Marsiati mengajarkan bahwa kekuatan sejati lahir dari ketulusan dan ketekunan. Pulang ke rumah bukan lagi tentang istirahat dan bersantai, tetapi simbol perjuangan dan kasih sayang yang terus hidup. Dan dari kisah sederhana ini, kita belajar satu hal: Kartini tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup dalam diri perempuan-perempuan tangguh seperti Bu Marsiati, yang terus berjuang demi keluarga dan masa depan. (M. Rega Dianta Mahendra)
Daftar Pustaka :
Badan Pusat Statistik Kota Surabaya. 2025. Perkembangan UMKM dan Ekonomi Kota Surabaya. Surabaya: BPS Kota Surabaya.