Tanggal 21 April bukanlah hari libur nasional, tetapi dirayakan secara luas sebagai Hari Kartini. Perayaan ini identik dengan kebaya sebagai simbol penghormatan terhadap perjuangan perempuan Indonesia. Kebaya telah digunakan sejak abad ke-15 hingga ke-16 pada masa kerajaan Nusantara, seperti Majapahit dan berkembang melalui pengaruh budaya luar, termasuk Tiongkok (Bei-zi), Arab dan Portugal.
Sejarah kebaya menurut beberapa tokoh dunia diantaranya tercantum dalam The History of Java (1817), Thomas Stamford Raffles menyebut “kalambi” sebagai busana longgar berlengan panjang hingga lutut. William Basil Worsfold mencatat istilah “kabaia” sebagai atasan pendek yang dipadukan dengan kain panjang atau sarung. Sementara itu, Augusta de Wit menuliskan bahwa perempuan Eropa mengenakan kebaya putih dengan sarung berwarna cerah. Kebaya kemudian menjadi busana perempuan bangsawan Jawa dan berkembang menjadi simbol identitas, keanggunan, sekaligus perjuangan. Semangat ini sejalan dengan pemikiran Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan kesetaraan perempuan. Kebaya mempresentasikan kecerdasan, keteguhan dan keberanian perempuan untuk bersuara.
Hari ini, semangat itu hidup dalam sosok Kartini masa kini. Ia hadir melalui nilai-nilai yang membentuk perempuan tangguh dan berdaya, yang dapat dirangkum dalam enam prinsip, berikut:
1. Confident (Percaya diri), yakin pada kemampuannya dan berani melangkah tanpa ragu. 2. Take Credit (Menghargai diri), menghargai setiap usaha serta pencapaiannya. 3. Speak Up (Berani bersuara), menyampaikan dan memperjuangkan yang dianggap benar. 4. Negotiation (Mampu bernegosiasi), mampu menyampaikan kebutuhan dan mencari keseimbangan dalam berbagai peran. 5. Say no to Stereotype (Menolak stereotip), tidak dibatasi peran sosial perempuan. 6. Don’t be Womenemy (Saling mendukung), memilih untuk menguatkan sesama perempuan, bukan menjatuhkan.
Kartini masa kini bukan hanya simbol, melainkan nyata hadir di sekitar kita, dalam peran sederhana maupun besar. Seperti kebaya yang terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, perempuan Indonesia pun terus berkembang, membawa nilai dan menciptakan perubahan. (Iriyana)
Daftar Pustaka :
Adiyani Y.P., Felissa A.S., Berliana A.O., Sari D.R., Aziz N.A. 2023. Akulturasi Budaya Cina-Indonesia dalam Pakaian Tradisional Kebaya Encim. Jurnal Kultur. Vol. 2, No. 1 (Januari 2023). Hal. 83-90. Universitas Negeri Semarang.