KARTINI HARI INI: PEREMPUAN YANG BELAJAR KUAT TANPA KEHILANGAN HATI
Ada hari-hari ketika saya pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi pikiran belum benar-benar berhenti bekerja. Laptop sudah tertutup, namun tanggung jawab belum sepenuhnya usai. Di satu sisi, pekerjaan menuntut saya untuk berpikir cepat, mengambil keputusan, dan memastikan semuanya berjalan sesuai target. Namun di sisi lain, ada anak yang menunggu untuk didengarkan ceritanya, ada keluarga yang membutuhkan kehadiran saya bukan sekadar fisik, tetapi juga hati. Serta di tengah semua itu, saya adalah seorang istri.
Saya masih ingat suatu malam ketika saya pulang lebih larut dari biasanya. Anak saya sudah menunggu di kamar. Saat saya masuk, Yumna hanya berkata sederhana, “Ibu, kok lama sekali pulangnya? Aku dari tadi menunggu Ibu.” Kalimat itu singkat, tetapi cukup membuat hati saya terdiam. Saat itu, saya tersenyum dan memeluknya, tetapi di dalam hati ada rasa yang sulit dijelaskan, antara lelah, bersalah, dan keinginan untuk mengulang waktu. Saya sadar, bagi saya mungkin itu hanya satu hari yang sibuk, tetapi bagi anak saya, itu adalah waktu yang ia nantikan. Perasaan bersalah itu nyata.
Sebagai perempuan, kita sering dituntut menjadi segalanya. Namun, tidak semua berjalan ideal. Saya belajar bahwa ketangguhan bukan berarti tanpa lelah atau ragu, melainkan tetap bertahan dan melangkah meski hati tidak selalu baik-baik saja. Di tempat kerja, saya terbiasa memimpin. Namun di rumah, saya belajar menurunkan ego. Menjadi istri bukan tentang siapa yang lebih tinggi, tetapi tentang saling menghormati. Ada kalanya saya mengalah, diam, dan belajar memahami. Tidak mudah, tetapi di situlah saya belajar dewasa. Saya juga memahami bahwa kesetaraan adalah tentang saling melengkapi.
Semangat R.A. Kartini hari ini hadir dalam bentuk berbeda, bukan hanya memperjuangkan hak, tetapi juga menjalani peran tanpa kehilangan jati diri.
Menjadi perempuan di era modern penuh tantangan. Ketangguhan tidak diukur dari kesempurnaan, melainkan dari kemampuan bertahan, menjaga keseimbangan, dan menghargai setiap peran. Dari sanalah lahir perempuan yang kuat dan mampu menginspirasi dengan ketulusan. (Siti Najiah)
Daftar Pustaka :
Faizal, A.A., Afrizal, S., & Hardiansyah, M.A. 2023. Peran Ganda Perempuan dalam Penguatan Ekonomi Keluarga. Jurnal Pendidikan Sosiologi.