Setiap peringatan Hari Kartini, gagasan emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini kembali dihidupkan. Pemikiran tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi hadir dalam realitas perempuan masa kini, khususnya mereka yang menjalani dua peran sekaligus : sebagai pengelola keluarga dan individu profesional. Perempuan modern tidak meninggalkan perannya, melainkan memperluas maknanya. Ia hadir di ranah domestik dan publik secara bersamaan, menjalankan tanggung jawab yang saling terhubung (Kartini, 2005).
Kehidupan perempuan dengan dua peran dimulai dari aktivitas domestik yang sering kali tidak terlihat, namun berperan penting dalam menjaga keharmonisan keluarga (Hochschild, 1989). Setelah itu, perempuan memasuki dunia kerja dengan tuntutan profesionalisme, target, dan tekanan yang tinggi, bahkan kerap harus bekerja lebih keras untuk memperoleh pengakuan yang setara (ILO, 2019). Tantangan utama bukan hanya pada peran tersebut, tetapi pada kemampuan menjalankannya secara bersamaan. Kondisi ini dikenal sebagai double burden, yaitu beban ganda dalam peran domestik dan publik (BPS, 2022). Di sisi lain, perempuan juga menghadapi beban emosional yang tidak terlihat, atau emotional labor, yaitu kemampuan mengelola emosi demi memenuhi tuntutan peran sosial (Hochschild, 1983). Meskipun demikian, perempuan tetap menjadi penopang penting dalam keluarga, baik secara praktis maupun emosional. Ia menjaga keseimbangan, menciptakan kehangatan, dan memastikan kehidupan berjalan dengan baik.
Perempuan yang menjalani dua dunia merupakan cerminan perubahan sosial di era modern. Ia tidak hanya menjalankan peran, tetapi mengintegrasikan tanggung jawab yang kompleks dalam satu kehidupan. Kekuatan perempuan terletak pada konsistensi dan ketahanannya dalam menjalani peran sehari-hari. Sosok ini menjadi bukti bahwa nilai emansipasi yang diperjuangkan oleh Kartini tetap hidup dan relevan hingga kini. (Hary Prayitno)
Daftar Pustaka :
Kartini, R. A. (2005). Habis Gelap Terbitlah Terang.