Berbicara tentang perempuan sama halnya berbicara tentang peradaban. Bagaimana tidak, setiap dari rahimnya akan terlahir insan dengan beribu petualangan indah dimasa depan. Maka sudah sepatutnya ruang aman dan nyaman hadir menemani pembentuk peradaban ini. "Peradaban bangsa harus dimulai. Jadikanlah mereka ibu-ibu yang cakap, cerdas dan baik. Maka mereka akan menyebarluaskan peradaban di antaranya bangsanya." ucap Raden Ajeng Kartini, Pelopor Peradaban Perempuan. Bermula dari rumah yang hangat, khitmad serta khusyu dalam memberi pengajaran terbaik untuk siapapun didalamnya, harapan tinggi untuk dapat bermuara dalam kehidupan luas dengan insan lainnya.
Untuk menjadi pembentuk peradaban yang baik bukankan pencetaknya juga harus baik? Baik dari sikap, adab, manajemen diri, dan tentu saja pendidikannya. Bukan hanya pendidikan formal namun pendidikan non-formal yang dialaminya membentuk pribadi yang diharapkan siap membentuk peradaban berikutnya.
Manusia terdidik bermula dari dari pendidik yang terdidik, adalah sebuah keniscayaan sebab adanya hukum keselarasan. Pendidikan yang sangat penting inilah yang menjadikan perempuan menjadi kontributor nyata dalam dunia pendidikan. Angka partisipasi perempuan kini lebih tinggi dari laki-laki pada tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Perempuan mendominasi profesi pengajar (guru) dengan 72% pada tahun 2024/2025. Maka semestinya bukan suatu hal yang aneh ketika perempuan dengan jenjang pendidikan tinggi memutuskan untuk fokus kepada pengasuhan yang akan diberikan kepada generasi penerusnya yang akan berkarya di masa depan. Selayaknya sebagai sesama manusia yang menginginkan kemajuan bangsa untuk saling memberi dukungan terhadap apapun keputusan yang diambil dari setiap individunya selama keputusan tersebut masih dalam batasan yang baik serta tidak merugikan siapapun.
Seperti halnya buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, stabilitas pembentuk peradaban perlu untuk disiapkan sebaik-baiknya. Perempuan dijaga dalam kondisi aman dan semestinya, maka pengasuhan dan pengajaran yang akan dia berikan akan seoptimal yang mampu dia usahakan. Output pengasuhan yang baik tidak hanya akan memberi efek pada lingkup kecil ditempatnya, namun kehidupan secara umum juga akan merasakan hasilnya. (Achmad Alyansyah Putra)
Daftar Pustaka :
Kartini, RA (2018). Habis Gelap Terbitlah Terang (Edisi Baru). Jakarta:Narasi.
Komnas Perempuan (2025). Guru sebagai Pilar Bangsa: Menghargai Peran, Menjamin Kesejahteraan, dan Mengakui Kerja Perawatan. Jakarta.